Analisis Data Spasial
Memetakan sebaran penyakit, nemuin hotspot, dan connect-nya dengan faktor lingkungan & sosial.
mengulas peta dulu ya… 🗺️
⚡ hai, aku Dinda!
Kalau kamu/GUYS mau tahu, aku itu penjelajah peta 🗺️ — orang yang membuat penyakit jadi datapoin, lalu membacanya supaya bisa menentukan siapa yang perlu dibantu duluan. Kabar baiknya: aku juga suka sekaliwarnanya cheerful. 🌈
Ini cerita aslinya, dari awal sampai sekarang.
Analis Data Spasial · Epidemiologi & Kesehatan Masyarakat
Namaku panjang, jadi orang biasanya panggil aku Dinda. Aku lahir di Muara Bungo, kota kecil di Jambi, di antara sungai dan hutan. Sejak kecil aku suka memandangi peta dan berpikir: “Di balik setiap garis ada orang, lho.”
Aku masuk Kesehatan Masyarakat di Universitas Jambi. Di sana aku ketemu GIS — dan semuanya langsung klik. Peta bisa menjawab pertanyaan yang tabel biasa tidak bisa: “Kenapa kasus di sini lebih banyak?”
Aku lanjut ke magister di Universitas Sebelas Maret untuk memahami lebih dalam soal epidemiologi dan biostatistika. Di sana aku meneliti TB paru secara spasial —alias cari tahu di wilayah mana saja tuberkulosis sedang berkembang paling cepat. 🫁
Setiap titik di peta itu seseorang yang lagi butuh bantuan. Tugasku: pastikan dia nggak kelupaan.
Dari kota kecil sampai ke seluruh peta Indonesia.
Bermain di tepi sungai, lihat musim hujan datang. Di sini aku belajar bahwa lingkungan membentuk kesehatan.
Kenalan sama GIS. Sadar bahwa peta jauh lebih bercerita daripada tabel angka doang.
Memetakan morbiditas & mortalitas COVID-19, lalu mengurai faktor lingkungan dan sosial yang berkaitan dengannya.
Meneliti bagaimana masyarakat menerima rencana kenaikan cukai rokok'verokok —masukan buat kebijakan lokal.
Deep dive ke epidemiologi, biostatistika, dan analisis spasial. Naik level dari peta di atas kertas menjadi peta yang benar-benar dipakai.
Terbit di JEPH. Pakai QGIS, SaTScan, dan GeoDa buat nemuin klaster kasus yang signifikan.
Menerjemahkan angka yang rumit menjadi keputusan kesehatan yang tepat sasaran. Satu peta, satu nyawa lebih tertolong.
Gabungan ilmu kesehatan, analisis data, dan peta.
Memetakan sebaran penyakit, nemuin hotspot, dan connect-nya dengan faktor lingkungan & sosial.
Menyelidiki pola, penyebab, dan penyebaran penyakit menular seperti TB paru & COVID-19 di level komunitas.
Moran's I, LISA, autokorelasi — baca pola yang tidak kasat mata dan ubah jadi keputusan.
Bekerja dengan tool/map engine favorit buat pemetaan & deteksi klaster.
Rancang & evaluasi kebijakan kesehatan, surveilans penyakit, program promotif-preventif.
Ubah temuan analitik jadi tulisan ilmiah & cerita data yang enak dibaca policymakers.
Beberapa penelitian yang paling kurindukan.
Petakan risiko TB paru di 17 wilayah kerja puskesmas Solo. Menemukan klaster yang signifikan secara statistik, serta kaitan kepadatan penduduk, kemiskinan, pengangguran, rumah sehat, dan suhu dengan kejadian TB.
buka publikasi ↗Analisis bagaimana masyarakat (“perokok aktif”) menerima kenaikan cukai — masukan buat pengendalian tembakau lokal.
buka publikasi ↗Studi spasial perjalanan COVID-19 di Kota Jambi — memetakan wilayah dengan angka kesakitan dan kematian tinggi, lalu mengurai faktor yang berkaitan dengannya.
jejak ilmiah ↗Ketuk salah satu titik buat baca ceritanya.
Setiap tempat menyimpan satu bab tersendiri. Klik penandanya ya!
Peta bukan cuma buat cari arah. Peta itu buat peduli. 🗺️
Data tanpa cerita cuma angka. Aku suka membuat cerita. 📖
Setiap peta yang kubuat, ada satu anak yang bisa lebih sehat. 💚
Kalau datanya cuma jadi tabel, itu belum jadi karya. 🤝
Open buat kolaborasi di bidang GIS, epidemiologi, dan kesehatan.
Atau butuh someone yang bisa baca data dan membuat cerita? Aku siap.
Kirid pesan 💌